Pelanggan Keystone mengaku sebuah kebocoran data mengungkap informasi pribadi yang sebelumnya diklaim perusahaan sudah dihapus. Insiden ini penting karena menguji apakah perusahaan hardware crypto benar-benar menepati janji privasi mereka — soal kepercayaan yang krusial bagi siapa pun yang membagikan data pribadi demi membeli sebuah wallet.
Apa yang sebenarnya terjadi
Menurut laporan The Block, pelanggan Keystone mengklaim sebuah kebocoran data membuka informasi pribadi yang disebut perusahaan sudah dihapus. Keystone sendiri menyatakan bahwa pihaknya menghapus data pelanggan 180 hari setelah pemesanan, dalam sebagian besar kasus. Sejumlah pengguna di X secara terbuka mempertanyakan klaim tersebut, dengan menunjuk pada kebocoran yang dilaporkan sebagai bukti bahwa data mereka masih ada melewati batas waktu penghapusan yang dijanjikan. Materi yang tersedia belum menyebutkan berapa banyak pelanggan yang terdampak, kapan kebocoran terjadi, atau jenis data apa saja yang terekspos. Hingga materi ini ditinjau, Keystone belum mengeluarkan pernyataan publik yang secara langsung menanggapi klaim tersebut.
Bagaimana ceritanya
Produsen hardware wallet lazim mengumpulkan nama, alamat pengiriman, dan detail pesanan untuk memproses transaksi. Perusahaan seperti Keystone membangun kepercayaan pelanggan sebagian lewat janji untuk menghapus data tersebut begitu tidak lagi diperlukan. Batas waktu 180 hari yang disebut Keystone dimaksudkan untuk membatasi berapa lama data sensitif tersimpan dan berisiko terekspos. Klaim kebocoran ini, sebagaimana dilaporkan The Block, langsung menguji janji tersebut. Jika data yang seharusnya sudah dihapus justru muncul kembali dalam sebuah kebocoran, itu mengindikasikan kebijakan tidak dijalankan sebagaimana mestinya, atau data tetap tersimpan di backup melampaui periode yang dinyatakan.
Mengapa ini penting bagi Anda
Bagi pelanggan Keystone saat ini, kejadian ini memunculkan pertanyaan apakah data pribadi mereka, termasuk detail pesanan, masih berisiko meski sudah melewati masa penghapusan yang dijanjikan perusahaan. Pengguna yang membeli perangkat dari Keystone lebih dari 180 hari lalu mungkin perlu memverifikasi data apa saja yang benar-benar sudah dihapus. Bagi produsen hardware wallet lain, kejadian ini menjadi pengingat bahwa kebijakan retensi data yang dinyatakan secara terbuka akan selalu diuji publik. Para pengembang yang merancang sistem wallet atau pemesanan sebaiknya menyadari bahwa pelanggan dan peneliti keamanan akan menguji klaim penghapusan data dengan bukti nyata, bukan sekadar bahasa pemasaran.
Pertanyaan yang lebih besar
Jika sebuah perusahaan berjanji menghapus data pelanggan setelah periode tertentu, siapa yang sebenarnya memverifikasi bahwa penghapusan itu benar-benar terjadi? Haruskah perusahaan hardware crypto menjalani audit independen atas kebijakan penghapusan data mereka, serupa dengan atestasi cadangan dana (reserve attestation), ataukah publik hanya akan mengetahui kebenarannya setelah sebuah kebocoran membongkar celah tersebut?
Yang perlu diperhatikan
Belum ada tanggapan resmi atau linimasa investigasi yang dipublikasikan dalam materi yang ditinjau. Pantau terus respons langsung dari Keystone atas klaim pelanggan, serta upaya peneliti keamanan independen untuk mengonfirmasi skala kebocoran ini. Bonuz akan terus memantau perkembangan terkait praktik pengelolaan data hardware wallet seiring berkembangnya kasus ini.



